Sensus Ekonomi 2026: Saatnya Data Bicara, Bukan Cuma Angka di Atas Kertas

Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid pidato di podium saat Pencanangan Sensus Ekonomi 2026
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyampaikan komitmen Pemkab mendukung Sensus Ekonomi 2026 saat pencanangan di GSG Puspemkab Tangerang, Selasa 23/6/2026. Ia menegaskan seluruh perangkat hingga RT/RW akan dilibatkan demi data yang akurat. Foto: Prokopim Kab. Tangerang

Nalar24.id | TANGERANG – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid ngomong tegas: Pemkab bakal kerahkan semua perangkat, dari kecamatan sampe RT/RW, buat suksesin Sensus Ekonomi 2026. Alasannya simpel: kebijakan tanpa data akurat itu cuma tebak-tebakan berbiaya miliaran.

1. Kenapa Harus Sampai RT/RW?
Maesyal Rasyid sadar satu hal: data ekonomi yang dikumpulin BPS gak akan valid kalo cuma nyantol di kelurahan. UMKM warung kopi, pedagang keliling, usaha rumahan – mereka semua adanya di gang-gang RT. Kalo petugas sensus gak nyentuh level itu, hasilnya cuma potret ekonomi formal doang. Padahal, denyut ekonomi Tangerang justru banyak di sektor informal.

Pernyataan “seluruh perangkat daerah hingga RT dan RW akan kami libatkan” itu bukan basa-basi. Itu pengakuan bahwa data makro tanpa data mikro itu ompong.

2. Data Akurat = Kebijakan Gak Ngawur
Kalimat kunci dari Bupati: “fondasi utama penyusunan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.” Terjemahannya: selama ini banyak program pemerintah salah sasaran karena datanya ngaco. Bantuan UMKM nyasar ke yang udah kaya, pelatihan kerja gak nyambung sama kebutuhan pasar, investasi masuk tapi gak nyerap tenaga kerja lokal.

Sensus Ekonomi 2026 ini taruhannya gede. Kalo datanya bener, Pemkab bisa tau: berapa jumlah warung yang butuh modal, sektor apa yang paling banyak nyerap orang Tangerang, di mana titik pengangguran paling parah. Kalo datanya salah, 5 tahun ke depan kita ulang lagi kesalahan yang sama.

Foto bersama Bupati Tangerang, Forkopimda, dan BPS saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026
Jajaran Forkopimda, BPS, dan kepala OPD Kabupaten Tangerang berfoto bersama usai Pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Kolaborasi lintas sektor ini jadi kunci sukses pendataan hingga tingkat RT/RW. dok/Deddy/Nalar24.id

3. Tantangan Sebenarnya: Kejujuran
Maesyal Rasyid minta pelaku usaha “memberikan informasi yang benar, lengkap, dan jujur”. Ini bagian paling susah. Banyak pelaku usaha takut lapor omzet asli karena khawatir dikejar pajak. Padahal, BPS gak punya urusan sama pajak. Data sensus sifatnya rahasia dan cuma buat agregat.

Logikanya kebalik: gak lapor jujur sekarang, nanti kebijakan pajak atau bantuan malah gak sesuai kondisi riil. Akhirnya yang rugi ya pelaku usaha sendiri. Sensus ini ngetes satu hal: mau maju pake data, atau nyaman dengan asumsi?

4. Kolaborasi atau Sekadar Seremoni?
Pencanangan di GSG Puspemkab itu baru langkah awal. Ukuran suksesnya bukan di foto-foto pejabat pegang poster, tapi di 3 hal:
– Petugas sensus beneran masuk ke RT/RW, bukan cuma data dari kantor desa
– Masyarakat ngerti bahwa ini bukan razia, jadi mau buka data
– Hasilnya 1-2 tahun lagi dipake buat bikin program, bukan cuma jadi laporan di rak

Kalo cuma berhenti di “optimistis”, ya ini bakal jadi sensus-sensusan doang.

PENUTUP Nalar24.id
Sensus Ekonomi 2026 itu bukan hajatannya BPS. Ini hajatannya warga Tangerang. Selisih satu digit data bisa berarti salah bangun pasar, salah kasih KUR, salah bikin balai latihan kerja.

Jadi pertanyaannya: pas petugas sensus ngetok pintu, kita mau kasih data beneran atau jawaban ngarang? Karena kebijakan 5 tahun ke depan lagi ditentukan dari jawaban itu.

red24/Deddy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *