Sumpah Pemuda Hari Ini : Persatuan Tanpa Gerakan Hanya Akan Menjadi Kenangan
Oleh : Ahmad Bustanul Arifin
- Koordinator Bidang III Pemberdayaan Mahasiswa
- Kabid VI Pemuda dan Olahraga, HIPMI PT Provinsi Banten
nalar24.id | TANGERANG – Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum bersejarah yang menegaskan pentingnya persatuan dalam membangun Indonesia. Ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda II pada 1928 tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan semangat perjuangan yang seharusnya terus hidup dalam tindakan nyata.
Namun, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama: sejauh mana semangat persatuan pemuda hari ini telah diwujudkan menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat ?
Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, unggahan di media sosial, ataupun slogan yang hanya ramai dibicarakan setiap bulan Oktober. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat bahwa persatuan membutuhkan tindakan, gagasan membutuhkan keberanian untuk diwujudkan, dan semangat perubahan harus dibuktikan melalui kontribusi nyata.
Pemuda Tidak Cukup Hanya Memiliki Gagasan
Pemuda sering disebut sebagai harapan bangsa. Sebutan tersebut tentu bukan tanpa alasan. Pemuda memiliki energi, kreativitas, keberanian, dan kemampuan untuk menghadirkan berbagai gagasan baru. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan dampak besar apabila hanya berhenti pada wacana.
Pemuda hari ini dituntut untuk mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Mulai dari tantangan pendidikan, keterbatasan lapangan kerja, kesenjangan akses terhadap peluang ekonomi, hingga kebutuhan pengembangan potensi generasi muda di daerah.
Karena itu, pemuda tidak cukup hanya menjadi generasi yang kritis dalam menyampaikan pendapat. Kita juga harus menjadi generasi yang produktif dalam menawarkan solusi. Kritik perlu diiringi kerja nyata, idealisme harus berjalan bersama kemampuan berkolaborasi, dan keberanian berbicara harus disertai kesediaan untuk mengambil tanggung jawab.
Dalam konteks pembangunan daerah, misalnya, pemuda dapat mengambil peran melalui gerakan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan kewirausahaan, kegiatan sosial, serta pembinaan olahraga dan kreativitas generasi muda. Perubahan tidak selalu harus dimulai melalui program besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten pun dapat memberikan dampak apabila dikelola dengan baik dan melibatkan banyak pihak.
Dari Kongres Pemuda Menuju Gerakan Nyata
Jika para pemuda pada 1928 mampu menyatukan perbedaan latar belakang, suku, bahasa, dan organisasi untuk membangun cita-cita kebangsaan, maka pemuda hari ini seharusnya mampu meneruskan semangat tersebut dalam konteks tantangan yang berbeda.
Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan adalah kemampuan untuk bekerja bersama di tengah perbedaan demi mencapai tujuan yang lebih besar.
Dalam kehidupan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, semangat ini harus tercermin melalui kolaborasi yang terbuka, program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, serta komitmen untuk mengesampingkan kepentingan kelompok ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih luas.
Organisasi pemuda tidak seharusnya hanya menjadi tempat berkumpul atau ruang untuk membangun eksistensi. Organisasi harus menjadi ruang pembelajaran, pengabdian, dan pengembangan kapasitas yang melahirkan kader-kader dengan integritas serta kemampuan untuk memberikan solusi.
Pemuda bukan sekadar objek pembangunan yang menunggu kebijakan atau program dari pihak lain. Pemuda juga merupakan subjek yang memiliki kapasitas untuk merancang, mengawal, dan menggerakkan perubahan. Oleh sebab itu, keterlibatan pemuda perlu dibuka seluas-luasnya dalam berbagai proses pembangunan, baik di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, maupun nasional.
Pembangunan Harus Menyala hingga Pelosok Desa
Ada satu kalimat yang menurut saya penting untuk terus kita renungkan: Indonesia tidak akan besar hanya karena obor di Jakarta, tetapi akan bercahaya karena lilin-lilin yang menyala di desa.
Kalimat tersebut mengandung pesan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari perkembangan pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga dari kesempatan yang tersedia bagi masyarakat di berbagai daerah.
Pembangunan harus mampu menjangkau desa-desa, wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan, serta masyarakat yang membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan potensi ekonominya. Di tempat-tempat itulah peran pemuda menjadi sangat penting.
Pemuda daerah harus diberikan ruang untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi. Mereka perlu didorong agar tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga menjadi bagian dari proses yang menentukan arah kemajuan daerahnya sendiri.
Saya meyakini bahwa gerakan pemuda yang tumbuh dari akar rumput memiliki arti penting bagi masa depan Indonesia. Ketika pemuda desa mendapatkan akses terhadap pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kesempatan ekonomi, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan potensi lingkungannya.
Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan menjadi keberpihakan terhadap pemerataan kesempatan. Jangan sampai persatuan hanya terasa dalam pidato, sementara kesenjangan kesempatan masih dirasakan oleh sebagian generasi muda.
Bonus Demografi dan Tanggung Jawab Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia tengah menghadapi momentum demografi yang penting. Besarnya proporsi penduduk usia produktif membuka peluang untuk mempercepat pembangunan, tetapi peluang tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan.
Bonus demografi membutuhkan persiapan yang serius. Pendidikan yang berkualitas, keterampilan yang relevan, penciptaan lapangan kerja, akses terhadap kewirausahaan, serta ruang partisipasi bagi generasi muda merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Apabila potensi tersebut dikelola dengan baik, generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Sebaliknya, apabila tidak diimbangi dengan kesempatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menghadirkan tantangan tersendiri.
Saya percaya bahwa pemuda merupakan salah satu pelopor pembangunan bangsa. Namun, keyakinan tersebut harus disertai kerja bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi kepemudaan, dan masyarakat.
Pemuda membutuhkan ruang untuk berinovasi, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, serta kepercayaan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Pada saat yang sama, pemuda juga harus membuktikan kapasitasnya melalui kedisiplinan, integritas, kompetensi, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya menjadi target yang terus diulang dalam berbagai forum. Cita-cita tersebut harus mulai dibangun melalui tindakan nyata hari ini.
Persatuan Harus Diikuti Gerakan
Pada akhirnya, memperingati Sumpah Pemuda berarti memperbarui komitmen kita terhadap masa depan bangsa. Persatuan harus menjadi kekuatan untuk bekerja bersama, bukan sekadar simbol yang dikenang setiap tahun.
Pemuda harus berani keluar dari zona nyaman, membangun kolaborasi lintas organisasi, menghadirkan gagasan yang solutif, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar untuk memulai perubahan. Kita dapat memulainya dari lingkungan terdekat, dari desa tempat kita tumbuh, dari kampus tempat kita belajar, dan dari organisasi tempat kita mengabdi.
Sejarah telah menunjukkan bahwa persatuan pemuda mampu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa semangat tersebut tetap relevan melalui karya dan pengabdian.
Sebab, persatuan tanpa gerakan hanya akan menjadi kenangan. Sumpah Pemuda akan benar-benar bermakna ketika nilai-nilainya hidup dalam tindakan, ketika perbedaan menjadi kekuatan untuk berkolaborasi, dan ketika pemuda hadir bukan hanya untuk berbicara tentang masa depan, tetapi juga bekerja untuk mewujudkannya.
Mari jadikan momentum Hari Sumpah Pemuda sebagai titik tolak untuk memperkuat gerakan, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena Indonesia yang besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang bersuara lantang di pusat, tetapi juga oleh pemuda-pemuda yang terus bekerja, mengabdi, dan menyalakan harapan dari daerah.
red24_FH
