Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi, Wali Kota Tangerang Resmikan Vihara Tri Bakti Abadi

Wali Kota Tangerang Lepas Kirab Budaya Ruwat Bumi & Resmikan Vihara TBA

Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menyampaikan sambutan pada Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi sekaligus peresmian Vihara Tri Bakti Abadi, Bio Fu De Zheng Shen dan Pendopo Banten
Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menyampaikan sambutan pada Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi sekaligus peresmian Vihara Tri Bakti Abadi, Bio Fu De Zheng Shen dan Pendopo Banten, Kamis malam (24/9/2026). Sachrudin menegaskan kirab budaya bukan sekadar seremonial, melainkan upaya merawat identitas dan nilai budaya untuk diwariskan lintas generasi. (Dok. http://NALAR24.id)

Nalar24.id | TANGERANG– Pembangunan fisik Kota Tangerang yang terus melaju tidak membuat nilai tradisi ditinggalkan. Justru di tengah modernisasi, Pemerintah Kota Tangerang menegaskan komitmennya untuk terus merawat kebudayaan sebagai identitas dan kekuatan sosial masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelaran Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi yang secara resmi dilepas oleh Wali Kota Tangerang H. Sachrudin, Kamis malam (24/9/2026). Kegiatan budaya ini dirangkaikan dengan peresmian tiga ikon kebersamaan baru, yakni Vihara Tri Bakti Abadi, Bio Fu De Zheng Shen, dan Pendopo Banten.

Acara yang berlangsung meriah di kawasan Vihara Tri Bakti Abadi itu dihadiri tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, pengurus vihara, hingga warga yang antusias mengikuti rangkaian Hari Sejit ke-14 Bio Fu De Zheng Shen yang digelar selama dua hari, 24-25 September 2026.

Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menandatangani prasasti peresmian Vihara Tri Bakti Abadi (TBA)
Wali Kota Tangerang H. Sachrudin menandatangani prasasti peresmian Vihara Tri Bakti Abadi (TBA) disaksikan tokoh masyarakat dan panitia Hari Sejit Ke-14 Bio Fu De Zheng Shen. Peresmian menjadi bagian dari rangkaian Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi di Kota Tangerang. (Dok. http://NALAR24.id)

Dalam sambutannya, Wali Kota Sachrudin menegaskan bahwa kirab budaya tidak boleh dimaknai sekadar sebagai tontonan atau kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, kirab merupakan medium hidup untuk menyampaikan nilai, cerita, dan jati diri masyarakat Tangerang yang majemuk.

“Kirab ini bukan hanya apa yang kita lihat malam ini di jalan. Di dalamnya ada tradisi, ada nilai, ada cerita leluhur yang harus kita kenalkan kepada anak-anak muda kita,” ujar Sachrudin di hadapan peserta kirab.

Menurut Sachrudin, kekuatan Kota Tangerang selama ini justru lahir dari keberagamannya. Berbagai suku, agama, etnis, dan tradisi tumbuh berdampingan secara harmonis. Keberagaman itu, kata dia, bukan menjadi penghalang, melainkan menjadi modal sosial yang mempererat persatuan.

BACA JUGA : Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026 di Kota Tangerang Digelar 27 September, Diproyeksi Hadirkan 3.000 Orang

Wali Kota Tangerang H. Sachrudin berfoto bersama tokoh masyarakat, pengurus Vihara Tri Bakti Abadi
Wali Kota Tangerang H. Sachrudin berfoto bersama tokoh masyarakat, pengurus Vihara Tri Bakti Abadi, dan komunitas usai pelepasan Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi. Acara digelar 24-25 September 2026 sebagai bentuk pelestarian keberagaman budaya di Kota Tangerang. (Dok. http://NALAR24.id)

“Kita semua tahu, Tangerang ini sangat beragam. Ada berbagai agama, etnis, tradisi, dan budaya yang hidup bersama. Selama kita saling menghormati dan memberikan ruang bagi setiap tradisi untuk tumbuh, perbedaan justru menjadi kekuatan yang mempererat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sachrudin juga menyoroti peran strategis rumah ibadah dan ruang-ruang kebudayaan. Ia menilai, vihara, masjid, gereja, pura, kelenteng, hingga pendopo budaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan masyarakat. Di sanalah silaturahmi dirawat, toleransi dipupuk, dan nilai-nilai kebudayaan dikenalkan kepada generasi penerus.

“Pembangunan kota harus berjalan beriringan dengan pembangunan kehidupan masyarakatnya. Kota boleh semakin maju dengan infrastruktur, tetapi budaya, kerukunan, dan kebersamaan juga harus tetap kuat. Itu yang membuat Tangerang tidak kehilangan jiwanya,” tegasnya.

BACA JUGA : Tasik Kardi, Warisan 450 Tahun yang Mati Karena Abai

Pada kesempatan yang sama, Sachrudin juga melakukan penandatanganan prasasti sebagai tanda diresmikannya Vihara Tri Bakti Abadi, Bio Fu De Zheng Shen, dan Pendopo Banten. Peresmian ini disambut antusias oleh pengurus vihara dan masyarakat Tionghoa di Kota Tangerang yang telah lama menantikan hadirnya ruang ibadah dan budaya yang representatif.

Di akhir sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, panitia, tokoh masyarakat, serta warga yang telah bergotong royong menyukseskan pembangunan vihara hingga terselenggaranya kirab budaya perdana ini.

“Kirab Budaya Perdana ini semoga menjadi awal yang baik. Menjadi tradisi yang terus hidup dan berkembang setiap tahunnya. Mari kita rawat budaya, kita jaga kerukunan, dan kita perkuat kebersamaan. Karena kekayaan Kota Tangerang bukan hanya soal apa yang kita bangun hari ini, tetapi juga tentang warisan apa yang kita jaga untuk generasi mendatang,” pungkas Sachrudin.

Dengan dilepasnya Kirab Budaya Perdana Ruwat Bumi, Pemkot Tangerang berharap tradisi Ruwat Bumi tidak hanya lestari sebagai ritual, tetapi juga menjadi agenda budaya yang mampu memperkuat identitas Kota Tangerang sebagai kota yang maju, religius, dan penuh toleransi.

(avriyani)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *