Nalar24.id | SERANG – Jika Anda datang ke Tasik Kardi hari ini, yang pertama menyambut Anda bukan keagungan Kesultanan Banten, melainkan huruf-huruf yang copot. Tulisan “Tasik Kardi” yang seharusnya gagah, kini tinggal “T S k a r d i”. Itulah potret jujur bagaimana kita memperlakukan warisan.
Taman Wisata dan Rekreasi Tasik Kardi di Kampung Margasana, Kramatwatu, Kabupaten Serang, adalah warisan Sultan Maulana Yusuf (1570-1580). Danau buatan di tenggara Keraton Surosowan ini bukan danau biasa.
Di tengahnya ada pulau kecil bernama Kaputren, tempat ibunda Sultan bertafakur dan keluarga keraton menerima tamu agung. Secara teknis, ia adalah bendungan cerdas yang menampung air Sungai Cibanten untuk mengairi sawah dan menjadi sumber air bersih keraton.

Hari ini, Minggu 20 September 2026, nalar sehat kita terusik. Tiket Rp10.000 per motor tetap ditarik, tapi untuk apa? Pintu masuk kumuh, papan informasi lapuk, perahu bebek karatan dan mangkrak di tepian danau yang keruh. Jika uang tiket ada, mengapa perawatan tidak ada? Ini pertanyaan nalar pertama yang harus dijawab pengelola dan Pemkab Serang.
Nalar kedua adalah soal kerugian daerah. Tasik Kardi adalah uang yang sudah jadi. Tidak perlu membangun storytelling, tidak perlu membuat sejarah palsu. Sejarahnya sudah 450 tahun. Lokasinya sudah di koridor emas wisata Banten Lama.
Wisatawan religi yang ziarah ke Banten Lama, seharusnya tinggal dibelokkan 10 menit ke Tasik Kardi. Tapi bagaimana mau dibelokkan jika tempatnya sendiri tidak layak dikunjungi? Pemkab Serang sedang membiarkan PAD paling mudah mengalir begitu saja ke danau yang keruh.
BACA JUGA : Gebyar Festival Kuliner Cikupa Resmi Ditutup, Pemkab Tangerang Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Program PROSPEK
Nalar ketiga yang paling penting: Tasik Kardi adalah identitas. Ketika kita membiarkan Kaputren terbengkalai, kita sedang membiarkan generasi lupa bahwa Kesultanan Banten pernah begitu maju dalam tata kelola air, begitu menghormati perempuan dengan membangunkan ruang tafakur khusus, dan begitu memuliakan tamu. Kerusakan Tasik Kardi adalah kerusakan ingatan kolektif.
Warga sudah bersuara lirih. “Harusnya ini ada perhatian dari pemerintah daerah agar tempat wisata ini terlihat menarik lagi,” kata Haer dan Anis, warga Margasana.
Teguran itu halus, tapi maknanya keras. Tasik Kardi tidak butuh janji revitalisasi miliaran rupiah di atas kertas. Ia hanya butuh dirawat. Disapu, dicat, dikeruk, dan dijaga.
Pertanyaannya kini bukan lagi mampukah Pemkab Serang merawatnya. Pertanyaannya adalah, maukah?
Jika warisan 450 tahun saja bisa kita abaikan di halaman rumah sendiri, warisan apa yang sebenarnya sedang kita banggakan?
(rengga)

Respon (1)