Nalar24.id | Subang — Peredaran obat keras golongan G di Subang makin gila! Meski sudah berkali-kali diinformasikan ke KBO Satresnarkoba Polres Subang, transaksi Tramadol, Eximer, dan Trihek di jalur Pantura Rancajaya, Patokbeusi, masih bebas kayak jual kacang, Rabu (17/2/2026).
Hasil penelusuran http://Nalar24.id di lapangan bikin miris. Obat keras yang harusnya pake resep dokter itu dijual terbuka di warung-warung kecil sepanjang Jalan Nasional Pantura. Bahkan sistemnya udah canggih: bisa COD.
Yang bikin ngeri, pembelinya bukan cuma orang dewasa. Info yang dihimpun nyebut pelajar SMP dan SMA juga gampang banget dapet barang haram ini. Warga khawatir masa depan generasi muda Subang hancur gara-gara obat-obatan.
Parahnya lagi, para penjaga warung ngaku gak takut. Alasannya? Sudah ‘koordinasi’. “Kami berani menjual obat seperti ini karena sudah berkoordinasi dengan aparat, baik dari polres maupun polsek. Bahkan kami selalu dilindungi,” ujar salah satu penjaga warung ke tim di lapangan.
Isu makin panas karena beredar kabar ada ‘koordinator lapangan’ sampai ‘big bos’ yang ngatur peredaran di beberapa titik. Ada juga dugaan oknum yang rutin nagih jatah koordinasi ke kios-kios.
Karena gak ada tindakan, pihak media siap bawa bukti ini ke Mabes Polri dan Mabes TNI. Tujuannya satu: minta periksa semua pihak yang diduga terlibat, tanpa pandang bulu.
Secara hukum, jualan obat keras tanpa izin bisa kena UU Kesehatan Pasal 196 jo Pasal 98 ayat (2) dan (3), Pasal 197 jo Pasal 106 ayat (1), plus UU Perlindungan Konsumen. Ancamannya pidana.
Masyarakat Subang udah muak. Desakan keras muncul agar Polres, Polda, sampai Mabes turun tangan. “Jangan cuma tangkap penjual kecil. Sikat juga bekingnya kalau emang ada. Masa depan anak-anak taruhannya,” kata salah satu warga Rancajaya yang minta namanya dirahasiakan.
(Erik)












