Dari Hanggar ke Kelas: Lanud ASH Bangun Ruang Baru untuk Generasi Penerus Baret Biru

Danlanud ASH Ketua Yasarini tinjau TK Angkasa
Komandan Lanud H. AS Hanandjoeddin Letkol Nav Maruli Tua Sinambela bersama Ketua Yasarini Cabang Lanud ASH Ny. Shinta Maruli meninjau fasilitas di TK Angkasa Lanud ASH, Belitung, Senin (7/9/2026). Foto: jamal/Nalar24.id

Nalar24.id | BELITUNG — Senin (7/9/2026). Di tengah kesibukan menjaga langit, Komandan Lanud H. AS Hanandjoeddin Letkol Nav Maruli Tua Sinambela menyempatkan diri masuk ke ruang kelas TK.

Bukan inspeksi alutsista. Tapi meninjau ruang kelas baru TK Angkasa. Karena TNI AU paham, pertahanan kuat dimulai dari pendidikan yang kuat.

Lanud bukan hanya soal pesawat dan radar. Lanud juga soal rumah. Soal keluarga. Soal anak-anak yang kelak akan meneruskan tongkat estafet.

Danlanud ASH siswa TK Angkasa belajar
Komandan Lanud ASH berinteraksi langsung dengan siswa TK Angkasa saat meninjau proses belajar mengajar di ruang kelas baru. Foto: Jamal/Nalar24.id

Itu yang terlihat saat Danlanud ASH bersama Ketua Yasarini Cabang Lanud ASH Ny. Shinta Maruli meninjau ruang kelas baru TK Angkasa Lanud H. AS Hanandjoeddin.

Agenda resminya: peninjauan sarana prasarana.
Tapi makna di baliknya: perhatian.

Pertama, Fasilitas adalah Bahasa Cinta.

Ruang kelas baru itu bukan sekadar tembok dan bangku. Itu adalah pesan: “Negara hadir untuk anak-anakmu”.
“Ruang kelas yang nyaman diharapkan dapat mendukung para guru… sehingga anak-anak dapat belajar dengan lebih baik,” ujar Danlanud ASH.

Di dunia militer, kenyamanan sering dikesampingkan demi kesiapan. Tapi di TK Angkasa, TNI AU memilih sebaliknya.

BACA JUGA : http://Dari Lapangan ke Barak: Kemenangan Nadia/Nimas Cermin Pembinaan PB TNI AU

Anak-anak berhak dapat tempat belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Karena dari rasa nyaman itulah tumbuh kreativitas.

Kedua, Pendidikan adalah Garis Pertahanan Terdepan.

Ketua Yasarini Ny. Shinta Maruli menekankan: sarana harus sejalan dengan kualitas pembelajaran.
Benar. Gedung bagus tanpa guru yang peduli dan kurikulum yang membangun karakter, hasilnya nihil.

Yang menarik dari kunjungan ini adalah interaksi. Danlanud dan Ketua Yasarini tidak hanya berdiri di depan. Mereka masuk, duduk, dan berbaur dengan siswa. Suasananya hangat. Ada pesawat mainan, ada tawa.

Ini penting. Ini menunjukkan bahwa TNI AU tidak berjarak dengan keluarganya sendiri. Pimpinan hadir, bukan untuk diawasi, tapi untuk mengayomi.

Ketiga, Membangun Karakter Sejak Dini.

Targetnya jelas: menciptakan generasi yang cerdas, mandiri, dan berkarakter.
Ciri khas anak TNI. Disiplin, tapi ceria. Tangguh, tapi berempati.

BACA JUGA : H225M Caracal di IKN: Bukti Negara Hadir Sebelum Api Berkobar

Ruang kelas baru ini adalah investasi jangka panjang. 10-15 tahun lagi, anak-anak ini akan jadi pilot, teknisi, dokter, atau pemimpin. Dan ingatan pertama mereka tentang “rumah TNI” adalah TK Angkasa yang nyaman ini.

Dari Belitung, Lanud ASH memberi contoh. Menjaga kedaulatan udara itu penting. Tapi menjaga masa depan anak-anak prajurit, sama pentingnya.

Karena sehebat-hebatnya sebuah pangkalan, ia akan kosong tanpa generasi yang siap mengisinya.
Dan generasi itu, sedang belajar mengeja di ruang kelas baru hari ini.

(Jamal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *