Driver SEPETA Kota Tangerang Turun ke Jalan, Tolak Ojol Diumumkan Jadi UMKM

Driver membawa spanduk saat berorasi
Salah satu tuntutan SEPETA adalah tolak ojol dijadikan UMKM. Foto: avriyani/Nalar24.id

Nalar24.id | TANGERANG – Suara para pengemudi transportasi online menggema di Taman Gajah, Kota Tangerang, Kamis (28/8/2026) sore.

Puluhan driver yang tergabung dalam Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia SEPETA menggelar aksi damai.

Aksi dimulai pukul 15.00 WIB dan diikuti sekitar 50 orang. Titik kumpul berada di depan Taman Gajah Tunggal RT.006/RW.003, Kelurahan Babakan.

Pengamanan dilakukan ketat. Apel dipimpin langsung Kapolsek Tangerang Kompol Suyatno SH, MH dengan dukungan 13 personel gabungan Polri dan TNI AD.

Polisi dan TNI amankan aksi driver di Taman Gajah
Pengamanan ketat TNI-Polri mewarnai aksi SEPETA di Taman Gajah. Foto: molly/Nalar24.id

Hadir juga Korlap Dinu Triharyanto, perwakilan DPP SEPETA Bangun Nugroho, dan Ketua DPC SEPETA Kota Tangerang Ahmad Taufik.

6 Tuntutan yang Disuarakan

Dalam orasinya, massa menyoroti sejumlah persoalan yang selama ini membebani pengemudi.

Poin paling keras adalah penolakan terhadap wacana “ojol dan kurir flatfrom sebagai pelaku UMKM”.

“Tolak dan gagalkan Ojol dan Kurir Flatfrom sebagai pelaku UMKM,” tegas massa melalui pengeras suara.

Selain itu mereka juga menuntut:

1. Ratifikasi Konvensi ILO 193 untuk pengemudi di Indonesia

2. Penghapusan biaya layanan dan biaya aplikasi yang dinilai mencekik

3. Penurunan biaya sewa motor listrik

4. Subsidi BBM khusus untuk driver online

5. Perhatian terhadap kesejahteraan pengemudi transportasi di Kota Tangerang

Spanduk “GAGALKAN OJOL UMKM” dan “RATIFIKASI ILO 193” dibentangkan di tengah aksi.

Berjalan Tertib, Lalu Lintas Aman

Sepanjang aksi, situasi terpantau kondusif. Massa tidak menutup jalan sehingga arus di Jl. Taruna Raya tetap lancar.

BACA JUGA : Polda Sumbar Bekali 490 Personel Kemampuan Komunikasi dan Pengelolaan Media Lewat Program Polri Belajar

Aksi berakhir pukul 16.35 WIB. Massa membubarkan diri dengan tertib tanpa insiden.

Bagi SEPETA, aksi ini bukan sekadar protes. Ini bentuk desakan agar negara mengakui pengemudi online sebagai pekerja yang butuh perlindungan hukum dan jaminan sosial, bukan sekadar “mitra”

(avriyani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *