Aspontren Dan Sanitren: Saat Pemkab Tangerang Bangun Asrama, Sekaligus Bangun Masa Depan Santri

Target 3 Tahun Tuntas: Pemkab Tangerang Gas Program Aspontren & Sanitren 1.100 Ponpes

Bupati Tangerang Maesyal Rasyid Aspontren Sanitren
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid saat membuka acara fasilitasi pelaksanaan bantuan program Aspontren dan Sanitren di Hotel Lemo Serpong, Selasa (08/09/2026). Foto: dedi/Nalar24.id

Nalar24.id | TANGERANG — Selasa (08/09/2026). Di Hotel Lemo Serpong, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid berdiri di depan 1.100 pesantren. Targetnya tegas: 3 tahun ke depan, semua dapat Aspontren dan Sanitren. Karena Pemkab paham, membangun pondok sama artinya membangun fondasi bangsa.

Bantuan pemerintah biasanya identik dengan jalan, jembatan, dan gedung. Tapi di Tangerang ada yang beda. Fokusnya ke asrama dan toilet pesantren.

Program Aspontren – Asrama Pondok Pesantren dan Sanitren – Sanitasi Berbasis Pesantren. Kedengarannya sederhana. Tapi maknanya besar.

Foto bersama kiai pesantren Aspontren Sanitren Tangerang
Bupati Tangerang bersama para kiai, pimpinan dan pengurus pondok pesantren usai acara fasilitasi program Aspontren dan Sanitren. Foto: Dedi/Nalar24.id

Pertama, Dari 75 ke 150. Itu Bukan Sekadar Angka.
Tahun 2025, 75 ponpes dapat asrama. Tahun 2026 naik jadi 150. Naik 2 kali lipat.

“Insyaallah 2027 kita tambah lagi,” kata Bupati Maesyal. Target akhirnya: 1.100 ponpes tuntas.

Ini logika yang jelas. Pemerintah tidak main bagi rata asal-asalan. Tapi bertahap, terukur, dan punya deadline. 3 tahun. Tuntas.

Karena membangun itu bukan soal seremonial. Tapi soal konsistensi.

Kedua, Asrama Nyaman = Santri Produktif.

BACA JUGA : Hadiri Milad ke-3 SIT Al-Araf, Bupati Maesyal: Pendidikan Harus Bangun Akhlak dan Karakter

Kenapa asrama dan sanitasi? Karena itu kebutuhan dasar.
Sulit minta santri semangat mengaji kalau tidurnya berdesakan dan airnya tidak layak. Sulit bicara kemandirian kalau sanitasi saja masih jadi masalah.

“Asrama dan Sanitren ini penting sekali kita perbaiki… untuk meningkatkan semangat belajar para santri,” tegas Bupati.

Ini bukan charity. Ini investasi. Investasi agar lahir generasi santri yang sehat, mandiri, dan punya daya juang.

Ketiga, Melanjutkan Ide dan Estafet Perjuangan.

Menariknya, Bupati menyebut program ini “muncul dari ide Pak Zaki”. Artinya ada kesinambungan. Program baik dilanjutkan dan ditingkatkan, bukan ganti bupati ganti program.

Lebih dari itu, pesannya ke para kiai: “Santri itu adalah pimpinan kita yang akan datang”.

Kalimat itu penting. Negara hadir bukan untuk menggurui pesantren. Tapi untuk menguatkan. Agar para kiai, ustadz, ustadzah punya ruang yang lebih layak untuk mendidik calon pemimpin umat.

BACA JUGA : Diresmikan Andra Soni, Pemkab Tangerang Hibahkan Lahan untuk 7 USB se-Banten

Dari Hotel Lemo, Pemkab Tangerang mengirim pesan. Pembangunan itu tidak hanya soal infrastruktur fisik. Tapi juga infrastruktur peradaban.

Saat asrama dibangun, saat sanitasi diperbaiki, saat itu juga harapan untuk 1.100 pesantren di Tangerang sedang dikuatkan.

Karena santri yang nyaman belajar hari ini, adalah kiai yang akan membimbing umat 20 tahun lagi.

(Dedi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *