Nalar24.id | TANGERANG – Kabupaten Tangerang tidak kekurangan ide. Hampir setiap tahun ada lomba inovasi. Tapi pertanyaan jujurnya: berapa inovasi yang benar-benar hidup setelah piala dibagikan?
Itulah yang dijawab Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, saat membuka tahapan seleksi wawancara Lomba Kreativitas dan Inovasi Kanvas Gemilang Tahun 2026 di Ruang Rapat Sinergi Bappeda, Senin (21/09/26).
Tahun ini temanya berat: “Transformasi Inovasi untuk Akselerasi Pembangunan Berkelanjutan Menuju Masyarakat Kabupaten Tangerang yang Sejahtera dan Berdaya Saing”.
Wabup Intan langsung memotong seremonial. “Jangan cuma seremonial, jangan cuma mencari produk inovasi yang tidak mungkin diimplementasikan di Kabupaten Tangerang. Lomba ini harus bisa menghasilkan inovasi nyata yang mudah diterapkan dan mampu mempercepat pembangunan yang berkualitas,” tegasnya.

Kalimat itu penting. Selama ini banyak lomba inovasi berakhir sebagai tumpukan proposal. Bagus di kertas, mati di lapangan. Intan ingin sebaliknya.
Menurutnya, Kanvas Gemilang harus menjadi ruang terbuka, bukan panggung eksklusif. Pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik, masyarakat umum, dan perangkat daerah semua boleh bersuara. Karena pembangunan Tangerang tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah.
“Kabupaten Tangerang ini dalam membangun tidak mungkin bisa sendirian pemerintah. Pasti harus bersama-sama dengan masyarakat. Keterlibatan dan kolaborasi langsung dari seluruh elemen masyarakat sangat menentukan jalannya pembangunan,” ujar Intan.
Ini logika nalar yang sehat. Di tengah tantangan global, perubahan iklim, ekonomi digital, dan tuntutan pelayanan publik yang cepat, Kabupaten Tangerang butuh inovasi yang membumi. Bukan inovasi yang butuh server luar negeri, tapi solusi yang bisa dipakai Pak RT dan Bu Kader.
Intan berharap gagasan yang masuk bukan sekadar ide. “Saya harap inovasi yang masuk tidak hanya berhenti sebagai gagasan dan ide, tapi bisa menjadi sebuah solusi yang mudah diterapkan, efektif dan efisien. Harus memiliki dampak dan keberlanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” harapnya.
Ia juga mengapresiasi 119 peserta yang lolos administrasi dan 40 peserta yang kini masuk tahap wawancara dari lima kategori. Keberanian menuangkan ide adalah modal pertama.
“Jangan takut mencoba dan jangan takut berbeda. Tunjukkan bahwa inovasi yang saudara-saudari hadirkan bukan hanya mampu menjawab persoalan hari ini, tetapi juga memiliki manfaat untuk masa yang akan datang,” pesannya kepada peserta.
Di sinilah ujian dewan juri. Wabup meminta juri tidak hanya menilai kreativitas, tapi kemungkinan implementasi dan dampak. Inovasi yang canggih tapi tidak bisa dipakai warga, harus gugur. Inovasi sederhana yang menyelesaikan masalah sampah, stunting, atau pelayanan desa, harus menang.
“Momen wawancara ini bukan akhir perjalanan inovasi. Justru ini harus menjadi alat untuk mengembangkan gagasan menjadi sesuatu yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.
Kanvas Gemilang 2026 sendiri adalah bagian dari HUT ke-394 Kabupaten Tangerang. Usia yang sangat tua, tapi kalau tidak diisi inovasi nyata, ia hanya akan menjadi upacara potong tumpeng tahunan.
Jika Tangerang ingin sejahtera dan berdaya saing, maka Kanvas Gemilang tidak boleh berhenti sebagai kanvas. Ia harus menjadi bangunan. Dari seleksi wawancara di Bappeda inilah, nalar itu akan diuji: apakah inovasi kita nyata, atau hanya gemilang di spanduk
(Alda)
