Nalar24.id | BOGOR — Bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian. Kini 100-an KK di Desa Sukajaya, Tamansari, Bogor mulai melihat harapan. Penyebabnya: ada legislator PAN Slamet Ariyadi yang mau turun langsung. “Keadilan agraria adalah harga mati,” tegasnya.
Konflik agraria itu bukan cuma soal surat tanah. Tapi soal perut, soal tempat tinggal, soal martabat.
Itu yang dipahami Slamet Ariyadi, Anggota DPR RI Fraksi PAN kelahiran Sampang. Makanya ia tidak diem di Senayan.
Pertama, Wong Cilik Harus Dibela.
“Tanah adalah sumber penghidupan utama masyarakat. Negara harus hadir untuk memastikan tidak ada hak-hak rakyat kecil yang tergerus,” ujar Slamet di Kompleks Parlemen, Jakarta (8/9/26).
Kalimat itu jadi kompas. Bagi Slamet, persoalan yang menyentuh hak hidup masyarakat kecil tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Kedua, Dari Aspirasi ke Aksi.
Slamet tidak cuma tampung keluhan. Ia jembatani langsung ke pusat. Komunikasi intensif ke Kementerian ATR/BPN dan aparat penegak hukum. Tujuannya: percepatan penyelesaian secara adil, transparan, dan berpihak ke warga.
Buktinya ada di lapangan.
Tanggal 6 September 2026, Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI menggelar “Festival Aspirasi: Menata Agraria, Menjamin Kepastian Hak atas Tanah” tepat di Desa Sukajaya
Di situ Slamet duduk lesehan bareng warga. Dengar langsung. Bukan lewat laporan.
Ketiga, Suara Desa Sampai ke Senayan.
Respon warga paling jujur.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Slamet yang mau mendengar keluh kesah kami dan turun tangan langsung. Perjuangan beliau memberikan kami kekuatan moral bahwa suara masyarakat kecil di desa tidak diabaikan di Senayan,” ungkap perwakilan warga.
BACA JUGA : Rapatkan Barisan, Golkar Sumsel Mulai Konsolidasi Hingga Tingkat Daerah
Selama ini mereka cemas. Lahan yang digarap turun-temurun statusnya tidak jelas. Sekarang ada yang mengawal.
“Ini adalah kerja bersama. Kami di parlemen akan terus mengawasi proses penyelesaian di lapangan agar hak rakyat benar-benar kembali kepada yang berhak,” pungkas Ketua Umum DPP BM PAN itu.
Dari Sukajaya kita belajar satu hal: Wakil rakyat yang sejati bukan yang paling keras pidatonya. Tapi yang paling hadir saat rakyatnya butuh kepastian.
(Lutfi)
