Nalar24.id | TANGERANG – Di tengah ramainya pengunjung Mall Ciputra, puluhan karya kriya khas Kabupaten Tangerang dipamerkan. Bukan sekadar pameran, Dewan Kerajinan Nasional Daerah Dekranasda Kabupaten Tangerang menyulap pusat perbelanjaan menjadi etalase budaya dan ekonomi kreatif lewat Dekra Fest 2026.
Festival yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Soma Atmaja pada Rabu 14 Oktober 2026 ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-394 Kabupaten Tangerang.
Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini Dekranasda sengaja memilih mal sebagai lokasi. Tujuannya satu, mendekatkan produk UMKM kriya kepada pasar yang lebih luas dan tidak terjebak di lingkup kecamatan saja.

Soma Atmaja yang hadir mewakili Bupati menilai, langkah tersebut relevan dengan upaya mendorong gerakan Bangga Buatan Indonesia.
“Produk kita tidak kalah. Kualitas, estetika, dan nilai budayanya ada. Tinggal bagaimana kita bangga memakainya. Dekra Fest ini bukti komitmen kita menjaga warisan budaya sambil menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata Soma dalam sambutannya.
Di atas panggung, Soma memukul gong didampingi Ketua Dekranasda Rismawati Maesyal Rasyid. Suara gong menjadi tanda dimulainya pameran yang akan berlangsung beberapa hari ke depan dengan menampilkan perajin dari berbagai kecamatan.
Menurut Rismawati, tantangan terbesar UMKM kriya saat ini adalah soal pemasaran. Banyak produk bagus dari pelosok kecamatan yang belum dikenal di kecamatan lain, apalagi di luar Kabupaten Tangerang.
“Di Panongan ada anyaman, di Balaraja ada batik, di kecamatan lain ada kerajinan kayu. Dengan diadakan di mal Ciputra ini, pengunjung jadi tahu. Satu kecamatan bisa kenal produk kecamatan lain. Itu yang kita mau,” ujar Rismawati.
Ia menegaskan Dekranasda tidak ingin festival berhenti sebagai seremonial tahunan. Ke depan, pihaknya mendorong kolaborasi lebih besar agar produk kerajinan Tangerang bisa menembus pasar provinsi hingga nasional.
Dekra Fest 2026 menampilkan puluhan stand UMKM yang menjajakan beragam produk, mulai dari batik, ecoprint, anyaman, kerajinan tangan, hingga produk fesyen berbasis wastra lokal.
Dengan konsep ini, Pemkab Tangerang berharap ekonomi kreatif berbasis masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai identitas baru Kabupaten Tangerang di usia ke-394 tahun.
(bgx)
