Nalar24.id | JAKARTA, — Wajah sepak bola nasional kembali menjadi sorotan tajam di tengah gegap gempita kompetisi internasional. Keberhasilan tim nasional melangkah di ajang Piala AFF atau FIFA ASEAN Cup 2026 menyisakan perdebatan mendasar yang melampaui urusan teknis di atas rumput hijau.
Di tengah perjuangan skuad Garuda semalam, Ekonom Konstitusi Defiyan Cori mengingatkan publik agar tidak terjebak pada euforia sesaat. Menurutnya, persoalan utama sepak bola Indonesia saat ini bukan sekadar menang atau kalah, melainkan arah dan cara bangsa ini membangun peradaban olahraganya.
”Wajah pemain Thailand mirip wajah pemain Indonesia, sementara wajah pemain Indonesia sendiri tidak selalu mencerminkan wajah Indonesia. Untung ada Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri yang menyelamatkan kita dari kekalahan semalam. Dengan susah payah juga, tak mudah walau mayoritas pemain adalah naturalisasi,” ujar Defiyan dalam pandangannya, Selasa (6/10/2026).
Defiyan menegaskan, polemik ini jauh melampaui urusan fisik atau wajah pemain. Pertanyaan fundamental yang harus dijawab bersama adalah: sistem apa yang sedang digunakan untuk membangun sepak bola Indonesia?
Ia mencontohkan konsistensi negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, serta raksasa Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Menurutnya, negara-negara tersebut membuktikan bahwa membangun tim nasional yang kompetitif tidak harus dilakukan dengan membanjiri skuad melalui jalur naturalisasi.
”Thailand dan Vietnam cukup menambah dua atau tiga pemain naturalisasi ketika diperlukan. Sementara Jepang dan Korea Selatan lebih dahulu membangun sistem pembinaan yang panjang dan berjenjang. Lalu kita? Apakah kita sedang membangun sistem sepak bola nasional atau sedang mencari jalan pintas menuju popularitas?”katanya kritis.
Menguji Jalan Pintas Menuju Juara
Bagi Defiyan, sepak bola tidak berbeda jauh dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) secara keseluruhan. Di dalamnya ada proses pembinaan usia dini, penjenjangan kompetisi, kaderisasi yang jelas, serta faktor paling krusial: konsistensi.
Ia mempertanyakan logika di balik masifnya penggunaan pemain naturalisasi. Jika naturalisasi adalah jalan tol menuju kehebatan, seharusnya Timnas Indonesia bisa menang dengan mudah tanpa harus melalui laga-laga yang melelahkan.
”Naturalisasi bisa menjadi pelengkap. Tetapi kalau dijadikan tulang punggung, lalu untuk apa kita membangun pembinaan? Karena ingin juara itu sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk dibayangkan. Yang sulit adalah membangun proses yang membuat juara menjadi konsekuensi, bukan kebetulan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menarik garis lurus antara tata kelola olahraga hari ini dengan orientasi pembangunan jangka panjang di masa lalu yang menekankan pada proses dan konsistensi.
Menurut Defiyan, ketika segala sesuatu diukur berdasarkan popularitas, uang, dan hasil instan, batas antara nasionalisme dan pragmatisme pasar menjadi kabur. Ia merujuk pada adagium ekonomi modern bahwa uang tidak mengenal batas negara atau nasionalisme, namun mengingatkan agar prinsip tersebut tidak serta-merta mereduksi marwah tim nasional.
BACA JUGA : Ketika Alam Bergerak, Indonesia Perlu Berhenti Sejenak: Cermin untuk Para Pemimpin
”Kalau iya, lalu apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Sebuah tim nasional yang sekadar menang hari ini, atau sebuah sistem pembinaan yang mampu melahirkan generasi pemain Indonesia untuk puluhan tahun ke depan? Sebab tim nasional seharusnya bukan tempat untuk memamerkan hasil belanja pemain, melainkan etalase hasil pembinaan sebuah bangsa,” tegas Defiyan.
Dari Bulu Tangkis hingga Panahan
Defiyan menambahkan, kritik terhadap jalan pintas ini tidak hanya berlaku di lapangan hijau. Disiplin olahraga lain seperti bulu tangkis dan panahan telah lama membuktikan bahwa prestasi dunia lahir dari rahim pembinaan yang sabar dan terstruktur, bukan dari cara-cara cepat saji (instant).
Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam, kata dia, tidak sedang mencari keajaiban ajaib di lapangan. Mereka fokus membangun manusia. Ketika manusianya dibangun dengan benar, prestasi datang dengan sendirinya sebagai sebuah keniscayaan.
Oleh karena itu, Defiyan mengajak publik untuk mengubah cara pandang dalam merumuskan target olahraga nasional. Alih-alih terus menerus mendesak dengan pertanyaan kapan Indonesia akan juara, orientasi harus dikembalikan pada substansi pembangunannya.
”Jadi, jangan hanya bertanya: ‘Kapan Indonesia juara?’ Pertanyaan yang lebih penting adalah: ‘Kapan Indonesia serius membangun sistem yang melahirkan juara?'” ujarnya.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan di atas lapangan bukan sekadar sebelas pemain yang memenangkan pertandingan, melainkan masa depan peradaban olahraga dan bangsa Indonesia itu sendiri.
(lutfi)
