Nalar24.id | JAKARTA – Sebuah tonggak penting dalam pengembangan literasi akademik dan inovasi berbasis pengalaman empiris tercatat di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu (1/8/2026).
Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional bertajuk “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” menjadi ruang diskusi ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi.
Acara yang digagas Mega Press Nusantara ini diikuti sekitar 500 peserta luring dan 1.500 peserta daring. Dukungan datang dari Perpustakaan Nasional RI, IKAPI, Kemenpora RI, serta FKM UI.
Dari Modal 70 Ribu Hingga Mendunia
Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa S1 Magister Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU NIM 257032012, menjadi sorotan.
Dalam buku setebal 400+ halaman itu, Ja’far mengisahkan perjalanan sebagai anak yatim dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Ia merantau ke kota hanya dengan bekal Rp70.000 dan membiayai kuliah lewat usaha jualan roti.
“Keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik,” ujar Ja’far.
Dari keterbatasan itulah lahir inovasi “Biofar SS”. Formulanya dirahasiakan, namun sudah melalui riset lapangan, uji lab, hingga uji coba di masyarakat.
Kepercayaan negara lewat Program Beasiswa Kapolri disebutnya sebagai amanah besar. Launching buku ini pun diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo oleh perwakilan Polri.
Jadi Rujukan Akademik Dunia
Keunggulan buku ini adalah integrasi pengalaman hidup dengan lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin. Kerangkanya mencakup Teori Modal Sosial, Teori Keadilan Kesehatan, Psikologi Perkembangan, Resiliensi, hingga metode manajemen Pareto 80/20 dan WBS.
Guru Besar FKM UI Prof. dr. Adang Bachtiar menyebut karya ini punya nilai akademik tinggi dan sudah jadi bahan diskusi profesor. Bahkan membuka peluang Ja’far lanjut S3 di Harvard University.
Apresiasi juga datang dari Kemenpora yang menetapkan Ja’far sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi. Perpustakaan Nasional RI pun menetapkan buku
ini sebagai koleksi referensi nasional.
“Kerja keras, integritas, dan doa mampu melahirkan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan,” tutup Prof. Zulhaida Lubis, Guru Besar FKM USU.
(Kanu)
