Aslama Nanda Rizal
Dosen Departemen Sejarah, Universitas Diponegoro
Nalar24.id |TANGERANG — Menulis adalah pekerjaan keabadian, walau hanya sebatas diary, catatan pribadi/kuliah, blogging, di media massa (daring dan surat kabar fisik), adalah cara menumpahkan isi kepala yang progresif dan elegan -tidak seperti saat ini yang cenderung ramai di media sosial semata. ‘Tradisi’ menulis kritis sejatinya adalah warisan para pendiri bangsa sejak mereka mahasiswa; Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, dan lainnya semua menulis. Bahkan, mendirikan platform tulisan masing-masing (konteks saat itu adalah surat kabar fisik).
Gempuran media sosial dan dunia digital termasuk konten kreator, telah berdampak besar pada tingkat literasi di dunia, termasuk Indonesia. Di negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark, Islandia), beberapa tahun ini mengubah metode pendidikannya. Meninggalkan digital: kembali ke buku, kembali membaca.

Kemampuan membaca beriringan dengan kemampuan dan kemauan menulis. Mahasiswa, terutama di Indonesia, sejatinya juga sama: kembali ke buku, kembali membaca, dan kembali (berani) menulis. Terutama jika kita bergelut di bidang sosial-humaniora dan sosial-politik. Menulis (tentu disertai bacaan yang kuat), adalah wajib.
Tradisi literasi tersebut penulis pegang teguh (ketika menjadi mahasiswa), dan abadi hingga kini. Tulisan sepanjang 2014-2020, akhirnya bisa dibukukan pada 2026: “MENJADI SEJARAWAN? Gagasan & Catatan Kuliah (S1 Sejarah UGM & S2 Sejarah UI, 2014-2020)”, melalui Penerbit Elba.
Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan yang tersebar di pelbagai media; blog (wordpress), surat kabar, dan platform daring lainnya, serta book chapter dan bagian dari skripsi, mau pun catatan dan tugas kuliah yang belum dipublikasikan dan masih tersimpan secara pribadi, semasa perkuliahan di program studi Ilmu Sejarah S1 Universitas Gadjah Mada dan S2 Universitas Indonesia). Kesempatan menimba ilmu dan menempuh pendidikan di dua program studi dengan dua universitas berbeda -sekaligus dua universitas terbaik di Indonesia- menjadi pengalaman berharga; membentuk pola pikir, memperkuat metode dan metodologi, menambah perspektif, dengan banyak belajar dari para sejarawan senior kaliber di UGM dan UI.
Tulisan yang dikumpulkan merupakan isi kepala, gagasan, yang tidak melulu sifatnya akademis dan formal. Melainkan, lebih banyak berkutat pada opini, esai, dan celotehan yang bebas. Pengalaman sejak mahasiswa baru (S1) di UGM, bergumul dengan literatur yang progresif, ideologis, membuat corak pikir cenderung ‘kiri dan radikal. Pengalaman aktivisme dalam organisasi dan gerakan mahasiswa -intra dan ekstra kampus- juga dapat dilihat pada tulisan sepanjang 2014-2018, yang cenderung berisi protes terhadap kondisi sosial masyarakat yang terjadi.

Tulisan di sepanjang 2019-2020, cenderung lebih banyak berkaitan dengan perkuliahan di kelas semasa menempuh jenjang magister (S2); metodologi sejarah, sejarah lisan, sejarah lokal, kondisi ekonomi Asia Tenggara, hingga teori dan kelas ilmu politik memperdalam berbagai ideologi -terutama- Eropa. Pendewasaan pribadi terjadi dan pola pikir semakin matang, serta kondisi objektif saat itu yang menyambut awal pandemi Covid-19, membuat tulisan cenderung reflektif dibanding (bercorak) protes. Namun, walau demikian, refleksi yang dilakukan justru sejatinya menggugat status quo; di mana posisi kita sejatinya (sejarawan)?, dan hal-hal yang saat itu (dianggap) perspektif baru secara metodologis. Tidak seperti masa S1 yang sebatas protes khas anak muda -mahasiswa baru- yang berapi-api.
Buku tersebut juga menjadi bukti perjalanan panjang 1 windu pendidikan tinggi sarjana hingga magister. Serta, sebagai rasa syukur bahwa banyak tulisan ‘masa muda’ yang tidak hilang, terekam, dan terpublikasi secara daring dan masih dapat dibaca.
Tentu, tulisan di masa itu penuh kekurangan dan tidak dapat diklaim sepenuhnya obyektif-ilmiah-akademis. Namun, semoga dapat menggugah mahasiswa saat ini. Begitu juga, tulisan-tulisan sepanjang S2. Bersyukur, karena dapat membaca ulang, masih tersimpan dan tidak hilang. Perkuliahan yang lebih serius ‘memaksa’ diri untuk lebih banyak mencatat dan mengabadikan hasil bacaan melalui tulisan secara obyektif-ilmiah-akademis. Karena sejatinya; umur itu fana, tulisan itu abadi.












