Nalar24.id | INTERNASIONAL — Drama di lapangan belum selesai, drama di luar lapangan sudah dimulai.
Argentina yang baru saja lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 kini menghadapi gelombang protes besar. Petisi online di http://argentinaout.com telah ditandatangani lebih dari 6 juta orang. Isinya satu: minta FIFA mendiskualifikasi Argentina.
Pemicunya adalah kemenangan comeback 3-2 atas Mesir di 16 besar. Sempat tertinggal 0-2, Messi gagal penalti, lalu Argentina membalikkan keadaan dengan 3 gol di 13 menit akhir.
Bagi Mesir, ini bukan sekadar kalah. Pelatih Hossam Hassan menuding ada “skenario”.
“FIFA mempromosikan ‘Fair Play’, tetapi kami tidak melihatnya di lapangan. Tanpa kesalahan-kesalahan itu, hasil pertandingan pasti akan berbeda,” ujarnya.
Poin sengketa ada di VAR. Gol Mesir dianulir karena pelanggaran di fase serangan. Sementara gol kemenangan Argentina dinilai Mesir berawal dari pelanggaran ke Mohamed Salah yang luput dari tinjauan.
Tudingan berat pun dilontarkan: FIFA sengaja ingin mempertahankan Messi di turnamen.

Namun kubu Argentina menolak mentah-mentah. Lionel Scaloni menyebut ini déjà vu.
“Pada 1986 mereka juga mengatakan Argentina mendapat keuntungan yang tidak adil. Ini bukan hal baru bagi kami,” kata Scaloni.
Ia membela sistem VAR. Menurutnya, teknologi saat ini membuat mustahil wasit membantu satu tim.
“Dengan VAR… sangat sulit membantu siapa pun. Mungkin dulu hal seperti itu bisa terjadi, saya tidak tahu, tetapi saat ini hampir mustahil,” tegasnya.
Scaloni justru menganggap kritik sebagai motivasi. Kini Argentina tinggal selangkah lagi ke final. Lawan berikutnya: Inggris di semifinal. Satu sisi lain sudah diisi Spanyol yang mengalahkan Prancis.
Apakah petisi 6 juta orang akan mengubah keputusan FIFA? Sejauh ini belum ada respons resmi dari badan sepak bola dunia itu.












